Cara Mengukur Brand Equity dari Intellectual Property Gaming

Game yang laris belum tentu memiliki brand equity yang kuat. Penjualan bisa melonjak karena diskon, viral di media sosial, atau momentum peluncuran, tetapi belum tentu pemain akan mengingat IP tersebut lima tahun kemudian.

Karena itu, Cara Mengukur Brand Equity pada intellectual property gaming perlu melihat lebih jauh dari jumlah kopi terjual.

Studio perlu memahami seberapa mudah brand dikenali, seberapa kuat hubungan emosional pemain, apakah mereka loyal, dan apakah nama IP mampu mendorong minat terhadap sequel, DLC, merchandise, atau produk lain.

Pahami Brand Equity sebagai Nilai di Benak Pemain

Brand equity pada dasarnya menggambarkan nilai tambahan yang muncul karena sebuah produk membawa nama brand tertentu.

Framework David Aaker membagi pengukuran brand equity ke dalam beberapa dimensi penting, termasuk brand loyalty, perceived quality, brand associations, brand awareness, dan market behavior.

Dalam konteks gaming, konsep ini cukup mudah dibayangkan.

Jika pemain mau membeli game baru hanya karena membawa nama franchise tertentu, berarti IP sudah memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian. Jika sebuah karakter langsung dikenali hanya melalui siluet atau simbolnya, brand awareness-nya juga kuat.

Artinya, pengukurran sebaiknya tidak bertanya sekadar “berapa banyak game yang terjual?” tetapi “berapa besar nama IP memengaruhi perilaku pemain?”

Ukur Brand Awareness dan Top-of-Mind

Langkah pertama adalah mengetahui apakah pemain mengenali IP.

Brand recognition berarti pemain mengenali nama, logo, karakter, soundtrack, atau elemen visual ketika melihatnya. Brand recall lebih tinggi tingkatannya: pemain dapat menyebut IP tanpa diberi pilihan.

Misalnya tanyakan kepada responden, “Franchise RPG apa yang pertama kali terlintas di pikiran?” Jika satu brand sering disebut spontan, berarti mental availability-nya tinggi.

Aaker memasukkan awareness sebagai salah satu komponen utama brand equity, sementara Kantar menggunakan konsep salience untuk melihat seberapa cepat sebuah brand muncul dalam pikiran konsumen pada situasi relevan.

Studio dapat mengukur indikator seperti aided awareness, unaided awareness, top-of-mind, branded search volume, dan recognition terhadap aset visual.

Jangan hanya mengukur followers karena orang bisa mengikuti akun tetapi tidak memiliki hubungan kuat dengan IP.

Ukur Seberapa Meaningful dan Berbeda IP tersebut

Brand yang dikenal belum tentu kuat.

Kantar menjelaskan tiga fondasi brand equity melalui kerangka Meaningful, Different, dan Salient.

Meaningful berarti brand memenuhi kebutuhan sekaligus membangun hubungan emosional. Different berarti ia terasa berbeda dari alternatif lain, sedangkan Salient berarti mudah muncul di pikiran.

Untuk game IP, pertanyaan “Different” sangat penting.

Apakah pemain dapat menjelaskan mengapa franchise tersebut berbeda dari kompetitor? Bisa karena combat, art direction, humor, lore, karakter, atau dunia yang sangat khas.

Kemudian ukur “Meaningful”.

Apakah pemain merasa terikat dengan karakter? Apakah mereka mengingat momen tertentu bertahun-tahun kemudian? Apakah franchise menjadi bagian dari identitas komunitasnya?

Jika orang mengenali sebuah game tetapi tidak punya alasan memilihnya dibanding alternatif lain, awareness tinggi belum tentu menghasilkan ekuitas yang sehat.

Gunakan Loyalitas sebagai Indikator Utama

Loyalittas pemain dapat terlihat melalui perilaku yang sangat konkret.

Apakah orang yang membeli game pertama juga membeli sequel? Berapa banyak yang membeli DLC? Apakah mereka kembali ketika franchise merilis produk baru setelah beberapa tahun?

Aaker menempatkan loyalty sebagai salah satu dimensi inti brand equity karena basis pelanggan yang loyal membuat sebuah brand lebih tahan terhadap tekanan kompetitor.

Dalam gaming, studio dapat mengukur franchise repeat rate.

Misalnya, dari pemain Game A, berapa persen yang membeli Game B? Dari pembeli sequel, berapa persen juga membeli expansion?

Data account-based akan sangat berguna jika tersedia.

Namun loyalitas jangan hanya diukur dari transaksi. Aktivitas Discord, fan art, modding, livestream viewership, wiki contribution, dan partisipasi event juga dapat menunjukkan hubungan yang tidak langsung terlihat dari revenue.

Perhatikan Perceived Quality dan Reputasi Franchise

Brand equity dapat turun jika franchise terlalu sering mengecewakan pemain.

Karena itu, monitor perceived quality secara rutin.

Gunakan user review, rating platform, community sentiment, recommendation score, serta survei sederhana seperti, “Seberapa yakin Anda bahwa game berikutnya dari franchise ini akan memiliki kualitas tinggi?”

Aaker memasukkan perceived quality sebagai dimensi utama karena persepsi kualitas dapat memengaruhi keputusan konsumen bahkan sebelum mereka mengetahui detail produk.

Dalam industri gaming, reputasi bisa menjadi aset besar.

Trailer dari IP kuat sering sudah mendapatkan perhatian sebelum gameplay dijelaskan secara lengkap karena pemain membawa pengalaman dari produk sebelumnya.

Tetapi efek sebaliknya juga berlaku. Peluncuran buruk dapat menurunkan kepercayaan dan membuat marketing game berikutnya lebih mahal.

Konsistenssi kualitas akhirnya merupakan bagian dari brand building.

Ukur Willingness to Pay

Salah satu sinyal brand equity paling kuat adalah kemampuan mempertahankan harga.

Kantar menghubungkan meaningful difference dengan pricing power, yaitu kemampuan brand mendorong konsumen membayar lebih dibanding alternatif.

Studio bisa menguji konsep ini melalui survei.

Misalnya, jika game baru tanpa brand dihargai Rp400.000, apakah pemain bersedia membayar Rp600.000 ketika produk yang sama membawa franchise favorit mereka?

Tidak perlu benar-benar menjual produk tersebut. Gunakan willingness-to-pay research atau eksperimen harga.

Indikator lain adalah performance saat full price dibanding periode diskon.

IP dengan equity kuat biasanya tidak sepenuhnya bergantung pada potongan harga besar untuk menarik pemain inti.

Lihat Daya Tahan Penjualan Back Catalogue

Brand equity yang sehat biasanya tidak hilang setelah launch window.

CD PROJEKT melaporkan The Witcher 3 telah terjual sekitar 60 juta kopi, sementara keseluruhan trilogi Witcher mencapai sekitar 85 juta kopi. Game tersebut masih terus didukung dan dipasarkan lebih dari satu dekade setelah rilis awalnya.

Contoh ini menunjukkan pentingnya long-tail demand.

Pantau berapa besar revenue yang masih datang dari game berusia tiga, lima, atau bahkan sepuluh tahun.

Jika IP lama terus mendapatkan pemain baru ketika sequel belum dirilis, brand tersebut memiliki daya tarik yang tidak sepenuhnya bergantung pada marketing launch.

Bandingkan pula peningkatan penjualan katalog ketika trailer sequel muncul.

Jika pengumuman produk baru langsung menghidupkan produk lama, ada efek halo franchise yang kuat.

Gabungkan Semua Metrik dalam Brand Equity Score

Tidak ada satu KPI yang mampu menggambarkan seluruh kekuatan IP.

Studio bisa membuat scorecard sederhana dengan lima komponen: Awareness, Differentiation, Loyalty, Perceived Quality, dan Commercial Power.

Misalnya masing-masing diberi bobot 20%.

Awareness bisa berasal dari survei recall. Loyalty dari repeat purchase. Perceived quality dari recommendation score. Commercial power dari full-price conversion dan back-catalogue revenue.

Jangan menggunakan score tersebut sebagai kebenaran absolut.

Gunakan terutama untuk melihat tren.

Jika skor awareness naik tetapi loyalty turun, persepsii pemain mungkin mulai melemah. Jika awareness stabil tetapi willingness to pay meningkat, kualitas brand secara ekonomi justru mungkin menguat.

Cara Mengukur Brand Equity pada game IP membutuhkan gabungan data persepsi dan perilaku.

Awareness menunjukkan apakah franchise dikenal, sedangkan loyalty, perceived quality, differentiation, dan willingness to pay menunjukkan seberapa bernilai nama tersebut bagi pemain.

Bangun brand equity dashboard dan pantau secara berkala agar studio dapat mengetahui apakah IP benar-benar semakin kuat, bukan hanya semakin terkenal.