Cara Mengelola Portfolio Project di Studio Game dengan Banyak Tim

Ketika studio hanya mengembangkan satu game, koordinasi proyek biasanya masih cukup sederhana. Masalah mulai muncul saat beberapa tim mengerjakan game, DLC, porting, prototipe, dan teknologi internal secara bersamaan.

Programmer dibutuhkan di tiga proyek, jadwal QA bertabrakan, sementara semua producer merasa pekerjaannya paling penting. Di sinilah Cara Mengelola Portfolio Project menjadi penting.

Studio perlu melihat seluruh proyek sebagai satu portofolio agar prioritas, sumber daya, risiko, dan target bisnis dapat dikelola bersama, bukan sekadar menyelesaikan masalah satu per satu.

Bedakan Manajemen Proyek dan Manajemen Portofolio

Project management fokus pada pertanyaan, “Bagaimana proyek ini selesai dengan baik?”

Portfolio management mempertanyakan sesuatu yang lebih besar: “Apakah kita mengerjakan proyek yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan sumber daya yang tepat?”

PMI mendefinisikan project portfolio management sebagai proses memilih, memprioritaskan, mengelola, dan mengendalikan berbagai proyek agar mendukung tujuan strategis organisasi.

Pendekatan ini juga membantu perusahaan memutuskan proyek mana yang dilanjutkan, ditunda, atau dihentikan.

Bagi studio game, perbedaan tersebut sangat penting.

Game A mungkin berjalan sesuai jadwal, tetapi jika menyerap seluruh senior engineer hingga membuat dua proyek bernilai lebih tinggi tertunda, secara portofolio keputusan tersebut belum tentu optimal.

Buat Satu Tampilan untuk Seluruh Pipeline

Studio multi-tim membutuhkan satu sumber informasi yang memperlihatkan seluruh proyek.

Tidak perlu semua detail task dari setiap developer. Portfolio view cukup menampilkan fase produksi, milestone utama, target rilis, budget, kebutuhan tenaga kerja, risiko, dependency, dan status strategis.

Atlassian menekankan pentingnya single source of truth dalam portfolio management karena informasi yang tersebar di spreadsheet, roadmap, dan tools berbeda membuat dependency sering diketahui terlalu terlambat.

Master portfolio view membantu leadership melihat hubungan antarproyek tanpa mengambil alih workflow internal masing-masing tim.

Misalnya, studio memiliki tiga game dan satu proyek teknologi internal. Dari portfolio roadmap, management bisa langsung melihat bahwa semuanya membutuhkan animation team pada kuartal ketiga.

Konflik tersebut jauh lebih murah diselesaikan enam bulan sebelumnya daripada dua minggu sebelum milestone.

Prioritaskan Proyek dengan Kriteria yang Konsisten

Masalah terbesar studio multi-proyek biasanya bukan kekurangan ide, tetapi terlalu banyak ide yang terlihat menarik.

Karena itu, setiap proyek perlu dinilai menggunakan kriteria yang relatif sama.

Studio dapat melihat potensi pasar, nilai IP, kebutuhan kas, strategic fit, risiko produksi, kebutuhan orang, peluang publishing, dan kemungkinan menghasilkan teknologi reusable.

PMI merekomendasikan portfolio management yang menghubungkan proyek dengan tujuan strategis, lalu melakukan pemeringkatan dan what-if analysis sebelum investasi ditetapkan.

Contohnya, Game A memiliki potensi revenue sangat besar tetapi membutuhkan empat tahun produksi. Game B lebih kecil, tetapi dapat dirilis dalam 14 bulan dan menghasilkan cash flow yang dibutuhkan studio.

Jika hanya mengejar potensi revenue terbesar, prioritass bisa keliru.

Proyek terbaik untuk portofolio belum tentu proyek dengan angka penjualan tertinggi.

Kelola Kapasitas, Bukan Sekadar Headcount

Memiliki 100 karyawan tidak berarti studio memiliki 100 orang yang bebas dialokasikan.

Satu proyek mungkin membutuhkan gameplay programmer, sementara orang yang tersedia adalah environment artist. Jumlah orang sama, tetapi kebutuhan skill berbeda.

Capacity planning berarti mencocokkan permintaan proyek dengan waktu, skill, dan energi yang benar-benar tersedia.

Atlassian menekankan bahwa perencanaan kapasitas membantu perusahaan menghindari kondisi tim terlalu penuh maupun sumber daya yang tidak termanfaatkan.

Karena itu, buat capacity map berdasarkan fungsi.

Lihat berapa kapasitas engineering, art, animation, audio, QA, production, dan marketing selama beberapa kuartal ke depan.

Sisakan Buffer untuk Hal Tak Terduga

Jangan mengalokasikan 100% kapasistas berdasarkan rencana ideal.

Game development penuh dengan revisi, technical debt, certification issue, bug, dan milestone yang bergeser. Jika semua tim sudah terisi penuh, satu penundaan kecil dapat merambat ke seluruh portofolio.

Buffer 10–20% pada fungsi yang sering menjadi bottleneck dapat memberikan ruang untuk menyerap perubahan tanpa langsung mengacaukan semua roadmap.

Petakan Dependency Antarproyek

Dependency sering menjadi sumber masalah terbesar dalam studio dengan banyak tim.

Game A mungkin membutuhkan engine feature dari technology team. Game B menunggu backend service. Sementara DLC Game C membutuhkan cinematic team yang masih mengerjakan proyek lain.

Kalau setiap producer hanya melihat roadmap mereka sendiri, semua jadwal bisa terlihat masuk akal.

Masalah baru terlihat ketika seluruh roadmap digabungkan.

Atlassian merekomendasikan portfolio view yang membuat dependency lintas tim terlihat lebih awal sehingga leadership dapat melakukan trade-off sebelum masalah mencapai tahap eksekusi.

Untuk dependency kritis, tentukan siapa pihak yang menyediakan output, siapa yang menunggu, tanggal kebutuhan, dan apa dampaknya jika terlambat.

Lebih bagus lagi, kurangi dependency yang tidak benar-benar diperlukan.

Studio dengan terlalu banyak ketergantunngan lintas tim akan menghabiskan banyak waktu untuk koordinasi dibanding produksi.

Gunakan Stage-Gate untuk Keputusan Investasi

Tidak semua proyek yang masuk pre-production harus mencapai full production.

Studio membutuhkan beberapa titik keputusan.

Misalnya: concept approval, prototype, vertical slice, production greenlight, alpha, dan release readiness.

Pada setiap tahap, leadership menilai ulang potensi pasar, kualitas produk, budget, jadwal, risiko, serta kapasitas portofolio.

PMI mencatat organisasi tanpa proses portfolio management yang matang sering mengalami masalah seperti tidak adanya kriteria Go/No-Go, minimnya Stage-Gate, serta salah alokasi sumber daya.

Stage-gate bukan dibuat untuk membunuh kreativitas.

Fungsinya adalah mencegah proyek yang sudah kehilangan alasan bisnis terus menyerap puluhan orang hanya karena perusahaan sudah telanjur mengeluarkan uang.

Seimbangkan Proyek Besar dan Kecil

Portofolio game yang sehat biasanya tidak memiliki semua proyek dengan profil risiko sama.

Remedy pernah menjelaskan model multi-project mereka sebagai cara membangun kontinuitas dengan proyek yang berada pada tahap berbeda dan memiliki profil risiko-reward berbeda.

Model tersebut juga memungkinkan teknologi dan kemampuan tertentu digunakan lintas produksi.

Prinsip ini tetap relevan untuk studio yang lebih kecil.

Studio dapat memiliki satu proyek utama, satu proyek berisiko lebih rendah, dan satu prototype kecil untuk menguji peluang berikutnya.

Embracer juga memperlihatkan skala kompleksitas portofolio yang ekstrem. Pada laporan FY2024/25, pipeline PC/console mereka mencakup 108 proyek dengan investasi development miliaran SEK.

Semakin banyak proyek, semakin penting disiplin portofolio.

Review Portofolio secara Berkala

Portfolio roadmap bukan dokumen yang dibuat Januari lalu dilupakan sampai Desember.

Pasar berubah. Publisher bisa keluar. Game pesaing muncul. Milestone terlambat. Biaya development membesar.

Lakukan portfolio review bulanan untuk risiko operasional dan review kuartalan untuk keputusan strategis.

Tanyakan apakah proyek masih mendukung strategi studio, apakah kapasitas masih realistis, apakah ROI berubah, dan apakah ada proyek yang perlu ditunda.

Portfolio management pada dasarnya adalah proses alokasii ulang sumber daya secara terus-menerus ketika kondisi berubah. PMI juga menekankan bahwa steering portofolio perlu dilakukan berkelanjutan, bukan hanya ketika proyek pertama kali dipilih.

Cara Mengelola Portfolio Project yang efektif membutuhkan pandangan di atas level proyek individual.

Satukan roadmap, ukur kapasitas berdasarkan skill, petakan dependency, gunakan stage-gate, dan lakukan evaluasi portofolio secara rutin.

Studio tidak harus menjalankan semua proyek yang memungkinkan. Mulailah memilih kombinasi proyek yang paling masuk akal bagi strategi, cash flow, kapasitas tim, dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.